Kabut di Wajah Perempuan

Cerbung Memori Perempuan Bagian ke-1

Hari ini hujan lagi. Nina mencangkungkan kaki di kursi kayu teras rumahnya. Menunggu hujan reda.

Please, gerimis saja paling tidak!” Gerutu Nina berulang-ulang. Juga, berulangkali ia mengeluarkan dan menengok HP dari tas rajutnya yang berwarna merah marun. Bagaimanapun, HP itu tak kunjung berbunyi atau bergetar.

Kali ini Nina mengeluarkan cermin kecil dari tas riasnya. Diperiksanya seluruh riasan pada wajahnya. Mukanya putih licin sempurna, nampak tanpa balutan bedak. Memang sudah dua tahun ini ia mengenakan krim wajah yang membuat mukanya kelihatan mulus alami.

Seperti kata sahabatnya, bedak yang kelihatan tebal sudah bukan jamannya lagi. Bedak tebal kini mencerminkan kelas sosial yang rendahan. Semakin nampak tebal riasan seorang perempuan, semakin menunjukkan bahwa ia tak punya cukup uang untuk menyulap wajahnya nampak cantik alami. Meski Nina selalu tak punya cukup uang, tapi seperti kata sahabatnya:

“Jangan terlalu mudah memperlihatkan kemiskinanmu pada orang lain, meskipun terhadap laki-laki yang kamu tiduri. Mereka hanya akan berbuat seenaknya jika tahu kamu sedang mengemis.”

Fly me to the moon..”

Suara merdu Nina berdering dari HP miliknya. Tanpa menunggu bait kedua, ia langsung mengangkat telepon masuk itu.

“Maaf, Kaka, di sini hujan lebat banget.” Nina terdengar gugup.

“Aku udah di depan gang rumahmu.” Kata suara dari telepon itu.

“Tapi di rumahku gak ada payung, Ka.” Suara Nina terdengar khawatir.

“Oke, aku ke sana bawa payung.”

“Maaf banget, Ka, jadi ngerepotin..” Suara Nina mulai serak. Tapi telepon itu telah terputus. Nina semakin gelisah.

“Ah, dia pasti marah. Aku benar-benar menyedihkan!” Gerutu Nina lagi. Ia berdiri dari duduknya. Merapikan dress mini yang sedikit mengkerut karena terlalu lama duduk. Matanya mengamati tubuh indah yang samar-samar tertangkap kaca nako.

“Ah, siapa yang tak menginginkan tubuh ini!” Gumamnya.

****

Aku, Nina Karima. Konon, nama Karima adalah pemberian kakekku yang terobsesi dengan segala kebudayaan Arab. Karena itu, setiap nama anak dan cucunya mengandung unsur bahasa Arab. Kecuali namaku yang hanya menggunakan unsur Arab di belakangnya saja, semua keluarga Kakek bernama lengkap Siti untuk perempuan dan Muhammad atau Ahmad untuk laki-laki.

O, Iya, Karima artinya mulia, kalau tidak salah.

Usiaku dua puluh lima. Aku menunda kuliah selama tiga tahun, dan kini baru menyelesaikan D3 Sekretaris lewat jerih payahku sendiri. Murni. Dalam arti, semua biaya kuliah plus kebutuhan hidup lainnya seperti makan dan sewa rumah, berasal dari keringatku yang jika dikumpulkan, mungkin sama banyaknya dengan muatan air sungai di kampung halamanku.

Terlalu berlebihan? Mungkin saja. Tapi itu untuk menggambarkan betapa melelahkan hidupku selama tujuh tahun terakhir ini.

Tepat di hari kelulusanku, Ibu meninggal. Ayah sudah pergi lebih dulu lima tahun sebelumnya. Aku anak bungsu. Keempat kakakku tak ada yang kaya. Mereka bergelut dengan dunianya masing-masing demi menafkahi keluarga. Mereka semua terlibat dalam pertempuran maha dahsyat dengan kehidupan ini.

Tak seorang pun yang bisa kumintai pertolongan. Maka, kuputuskan saat itu juga untuk menjauh dari mereka. Bukan karena membenci atau ingin melupakan. Setidaknya, tanpa kehadiranku di dekat mereka, tak ada percakapan tentang siapa yang harus menanggung masa depanku. Percakapan yang bisa menjadikan muka mereka nampak semakin keruh dan tua, padahal mereka masih berumur di bawah 40 tahun.

Subuh itu, 41 hari setelah kepergian Ibu, aku mengendap-endap keluar dari rumah. Kutinggalkan surat teramat pendek untuk keempat kakakku:

Kakak-kakakku tersayang, aku meninggalkan kalian. Tidak usah khawatir, aku pasti bisa menjaga diri. Semoga kelak kita bisa berkumpul dalam keadaan yang lebih baik dari ini. Aku janji untuk kembali.

Sayangku untuk kalian,
Nina

Berurai airmata aku menghabiskan perjalanan panjang menuju Kota B. Dalam hati aku berjanji, hanya kabar bahagia yang akan kukirimkan setiap bulannya kepada mereka.

Duh, Gusti, niat mulia itu!

****

SUV hitam membawa Nina menelusuri jantung Kota B. Selain supir, hanya ia dan seorang perempuan setengah baya di dalam mobil itu. Sesekali Nina menggigit ujung kuku ibu jarinya. Lalu semakin kerap ia melakukannya. Perempuan setengah baya yang biasa dipanggil Kaka, sibuk dengan tabletnya. Tapi ia masih sempat menegur Nina.

“Ini bukan pertama kalinya dan kamu masih segugup itu?”

Nina berhenti menggigiti kukunya.

“Maaf, Ka.”

Perempuan itu kini memusatkan perhatiannya pada Nina.

“Lafalkan sugesti dari rekaman yang kuberi itu: “Tidak apa-apa, ini untuk masa depanku…” Kamu tahu ini semua memang demi masa depanmu, kan?” Suara perempuan itu lembut dan ramah. Nina menuruti kata-katanya, memejamkan mata lalu mulai merapalkan kalimat tersebut.

“Tidak apa-apa, ini untuk masa depanku…”

Senja merona, sepanjang tepi pantai yang mereka lalui, sunset nampak indah seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula, Nina melewatkan pemandangan itu.

*****

Advertisements

One thought on “Kabut di Wajah Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s