Nikmat Keparat

Cerbung Memori Perempuan Bagian ke-2

Sesosok tubuh menjulang telanjang menghadap cermin. Tegap, kekar. Kulit coklatnya dilumuri tato serigala. Rambutnya hitam lebat, memanjang hingga bahunya yang kokoh. Mata Nina mengerjap beberapa saat. Lelaki pemilik tubuh itu melihat Nina yang mulai siuman. Ia berbalik dari cermin lantas menghampiri perempuan cantik yang tergeletak di ranjang yang luas itu.

“Sudah bangun?” tanyanya lembut.

Nina hanya mengangguk. Baru saja ia hendak mengangkat tangan dan menggigiti kukunya, tetapi segera ia urungkan. Dilemparkannya senyum tercantik yang selalu berhasil memikat banyak pria.

Lalu Nina membangunkan tubuhnya dengan gemulai, seperti penari telanjang yang meliukkan tubuhnya sedemikian rupa di hadapan seorang pelanggan yang ia tahu tengah memegang uang. Nina mendekatkan tubuhnya pada lelaki yang berdiri di tepi ranjang itu.

“Namaku Nina,” katanya sembari menyodorkan tangannya yang mulus dan ramping. Lelaki di hadapannya menyambut tangan Nina sambil tertawa.

“Aku tahu,” katanya sebelum mencium tangan yang sudah tak bergetar lagi itu. Lelaki itu menuntun Nina menuju cermin. Dihadapkannya tubuh telanjang Nina pada cermin itu. Lalu ia memeluk tubuh semampai nan molek itu dari belakang. Tangannya melingkari perut rata Nina.

“Kamu gadis milik Kaka yang termasyhur.” Mata lelaki itu berbinar menatap mata Nina yang terpantul di dalam cermin. Mata itu lalu menjelajahi seluruh tubuh Nina yang bagai lukisan dalam cermin.

Nina memberi senyum sangat manis untuk pujian itu. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada tubuh lelaki itu, kakinya sedikit berjinjit agar mulutnya bisa sejajar dengan telinga lelaki itu. Lantas ia berbisik, “Aku bukan milik Kaka. Aku milikmu.”

Suara dan gerakannya cukup membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri. Tapi belum cukup untuk membangunkan penisnya yang menjuntai panjang, di belakang tubuh Nina.

Nina kemudian berbalik menghadap lelaki itu.

“Hm… tubuh muda yang sempurna.” Katanya sembari matanya mengolah tubuh telanjang lelaki itu, dari atas hingga kakinya yang lebar dan panjang.

Lelaki itu tertantang kejantanannya. Ia mendekat semakin rapat. Diraihnya wajah Nina. Senyum perempuan itu sangat menggoda, juga matanya. Ia segera melumat bibir merah Nina. Dihirupnya bibir sensual itu seakan ia ingin menghabiskannya saat itu juga.

Nina sedikit kewalahan oleh nafsu lelaki itu. Ia bahkan mulai kesulitan bernafas. Tetapi ia berhasil mengimbangi ciuman buas itu. Bibir saling melumat, lidah saling menghisap.

Sambil terus berciuman, lelaki itu mengangkat tubuh Nina, lalu membawanya ke atas tempat tidur. Ditidurkannya Nina dengan penuh hati-hati. Nampaknya ia telah menguasai berahi yang sempat memuncak beberapa saat lalu. Lelaki itu kini memandangi wajah Nina dalam-dalam.

Padahal Nina telah siap dengan serangan berikutnya. Justru ia tak menyiapkan diri untuk berhadapan dengan mata yang kini seolah ingin membaca seluruh kisah dalam dirinya. Sejenak Nina bermata gugup. Ia mencoba menghindari tatapan lelaki yang kini berada di atas tubuhnya dan menelusuri setiap jengkal wajahnya dengan mata yang hitam pekat itu.

“Kenapa berhenti, Sayang?” Nina berusaha manja.

Lelaki itu tersenyum dan masih memandangi wajah Nina, tubuh kekarnya menindih kokoh, dada bidang dan degup jantungnya terasa hangat di payudara Nina.

Lelaki itu mengelus pipi Nina, lalu bibirnya, lehernya, dadanya, payudaranya. Ia berhenti di sana cukup lama, memainkan putingnya: dielus, diremas, diputar-putar—beberapa kali Nina mendesah atau malah menggigit bibirnya demi merasakan sensasi yang luar biasa nikmat—hingga puting itu mulai membesar dan keras.

Nina meraih rambut lelaki itu, membelainya sedikit, seiring matanya membujuk agar lelaki itu melakukan lebih dari sekedar mengelus dan meremas.

Tapi lelaki itu justru berhenti sama sekali. Ia lalu berangsur mendekati telinga Nina.

“Tidakkah kau ingin tahu siapa aku? Paling tidak namaku?” tanyanya membisik.

Nina tertegun. Ia tak pernah ditanya seperti itu sebelumnya. Karena di dunianya ini, hanya mereka yang mengenal namanya. Sementara itu, ia harus melindungi mereka dengan tidak bertanya apa pun, terutama nama!

Nina menggeleng. “Aku tahu, kamulah yang sanggup memuaskanku…,” bisik Nina di dekat telinga lelaki itu. Lalu terdengar olehnya tawa kecil dan tenggorokan yang menelan ludah.

Lelaki itu memiringkan kepalanya, matanya kini menembus mata Nina dalam-dalam, tak begitu lama. Mata itu lantas pindah pada bibirnya.

Tak sabar lagi, lelaki itu menghirup bibir Nina kuat-kuat, lalu menghisap lidahnya lembut, lama, liar… Ia julurkan lidahnya menjelajahi lidah dan seluruh isi dalam ruang mulut Nina.

Nina menerima semua serangan itu dengan suka rela. Ia melayang. Bibir lelaki itu terasa lembut di bibirnya. Nafasnya wangi dan lidahnya lentur, kenyal, nikmat. Ia ingin menjadikan lidah itu makanan sehari-harinya.

Nina menarik tangan lelaki itu ke arah dadanya. Ia katupkan jemari lelaki itu pada payudaranya yang sudah mengencang sempurna.

Lelaki itu berhenti menjelejahi mulut Nina. Kini ia menjilati telinga Nina. Menjulurkan lidahnya pada liang yang kecil itu. Nina mendesah, tangannya berpegangan pada pinggang lelaki itu, sesekali ia menancapkan cakarnya.

Lelaki itu telah selesai dengan kedua telinga Nina. Kini ia menjelejah pada leher Nina. Mula-mula, diciuminya lembut, lalu dijilatinya leher jenjang itu, lalu diciumnya lagi kuat-kuat hingga memerah.

Nina mengerang, tangannya menekan kepala lelaki itu lembut lantas membimbingnya pada bagian yang lebih intim: payudara.

Nina tak sabar ingin merasakan lidah dan geligi lelaki itu pada payudaranya. Kenikmatan tiada tara baginya. Lelaki itu menurut. Mula-mula ia meremas-remas payudara Nina. Membelai, memilin-milin putingnya. Nina tak tahan. Lelaki itu seperti ingin mempermainkannya.

“Hisaplah, sayang!”

Akhirnya Nina meminta dengan suara tertahan dan manja.

Lelaki itu tersenyum nakal. Dikecupnya kedua payudara Nina lembut. Lalu lidahnya menjilati kuncup puting sebelah kanan. Lidah itu memutar-mutar, terkadang bergerak dari atas ke bawah, lalu memutar lagi, diselingi dengan hisapan yang dalam oleh mulutnya. Puting semakin merekah dan keras. Nina memejamkan matanya.

Lelaki itu kemudian memenuhi mulutnya dengan payudara Nina. Dihisapnya dalam-dalam. Kadang ia menggigit. Lalu menjilati lagi putingnya, menggigitnya lagi perlahan. Terus saja ia permainkan puting yang telah tak berdaya itu.

Nina masih belum puas, ia menarik tangan lelaki yang tengah menggumuli payudaranya itu. Diarahkannya tangan itu pada sepucuk daging kecil yang teronggok di tengah-tengah bibir vaginanya. Ia meminta tangan sang lelaki untuk memainkan daging kecil itu.

Lelaki itu menurut.

Sambil bibirnya menghisap dalam-dalam payudara Nina, tangannya mempermainkan klitoris perempuan itu dengan lincah. Tangan itu terus bergerak lincah. Klitoris Nina dipermainkannya, ditekan-tekan, digoyang-goyang. Semula pelan, lalu cepat dan semakin cepat, sementara ia menggigit puting Nina bergantian dari kiri ke kanan, lagi dan lagi, sesekali lidahnya bermain juga di sana.

Nina menggelapar-gelepar, seperti ikan yang diangkat ke daratan. Matanya seolah-olah menyiratkan kesakitan, tetapi ia mengeluarkan desah dan erangan manja dari mulutnya. Susah untuk menafsirkan apakah ia tersiksa atau bahagia. Tetapi para pemuja berahi tahu, Nina sedang berada di puncak kenikmatan.

Apalagi ketika telunjuk lelaki itu perlahan-lahan dimasukkannya ke lobang vagina Nina. Telunjuk itu ia tusukkan perlahan, lalu ia tarik kembali, ditusukkannya lagi, semakin cepat, semakin kencang… kini jari tengahnya turut serta. Kedua jari itu terus bergerak keluar-masuk dari vagina Nina yang kian basah.

Nina terus mengerang, bergelinjang-gelinjang. Tangannya menekan kepala lelaki itu yang telungkup di atas payudaranya. Ia berseru, “Yang kenceng, sayang! Gigit… jilat…, aahhhh…!!!”

Tangan dan mulut lelaki itu semakin sibuk, sementara Nina terus mengeraskan seluruh tubuhnya. Ia meremas-remas rambut lelaki itu sambil mengerang. Ia mengangkat perut dan bokongnya, hingga kedua jari lelaki itu masuk semua ke dalam vaginanya. Lelaki itu terprovokasi, digoyang-goyangkannya kedua jari yang tertelan vagina itu, membuat Nina semakin tak tahan, ditekannya lagi kepala lelaki itu keras-keras ke dalam payudaranya, lalu sampailah mulutnya berteriak, “Aahhhhhh….!!!”

Tangan Nina mencengkram kuat-kuat rambut hitam dan basah milik lelaki itu. Satu detik, dua detik… seluruh tubuh Nina mengejang, tangannya semakin kuat mencengkram.

Lelaki itu menggigit daging yang menyangga puting Nina, tangannya kini menyerah di dalam vagina yang basah.

Begitu pun Nina. Lunglai. Cengkramannya telah lepas, kini tangan Nina terkulai di atas sprai yang telah ringsek. Kepala Nina menengadah, nafasnya terengah-engah.

Beberapa saat tak ada yang memulai gerak. Nina masih terlena oleh kepuasannya. Sementara lelaki itu kini memandangi wajah puas Nina. Ia berteriak girang dalam hatinya, “Aku layak dapat medali!”

****

Advertisements

One thought on “Nikmat Keparat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s