Orang Nomor Satu

Cerbung Memori Perempuan Bagian ke-4

Tahun 2017 adalah tahun paling bersinar bagi Nina. Namanya masuk ke dalam daftar “Penyedia” yang paling dicari. Dengan segera, ia pun dipindahkan dari kelas II B ke kelas IA.

Jika kalian penasaran, kelas IA adalah kelas tertinggi dalam dunia Nina. Kelas ini hanya akan melayani para pelanggan dari kalangan atas. Orang-orang nomor satu di mana pun mereka berada.

Nina baru tahu bahwa ada begitu banyak orang nomor satu di dunia ini. Nomor satu itu tidak satu ternyata. Ada pengusaha tambang nomor satu, pengusaha transportasi nomor satu, pejabat nomor satu, pangeran nomor satu. Banyak sekali turunan dari nomor satu ini.

Dan Nina menghitung, 42 orang nomor satu telah tidur dengannnya. Dari ke-42 itu, Nina belajar tentang satu hal: bagi orang-orang ini, seks hanyalah salah satu cara untuk menunjukkan kekuasaan mereka.

Bagi orang-orang ini, kenikmatan seks adalah kenikmatan yang bisa diukur dari seberapa banyak uang yang mereka keluarkan dapat terbalas. Misalnya, jika Nina mendapat bayaran seharga mobil keluaran terbaru, maka pelayanan yang harus diberikannya adalah satu per tiga dari hidupnya. Orang-orang ini akan menuntut Nina melakukan apa pun yang mereka minta, kapan pun mereka mau. Tidak peduli Nina tengah bersama pelanggan lainnya, apalagi bila Nina tengah menikmati kesendiriannya.

******

Siang itu Nina punya sedikit waktu luang. Ia menerima teguran pada malam sebelumnya karena enggan melakukan anal seks permintaan dari salah satu pelanggan nomor satu. Karena itu ia dibebastugaskan hingga seminggu ke depan.

Sebenarnya, teguran demikian adalah pertanda buruk bagi mereka yang bekerja di dunia ini. Tapi bagi Nina, ini kesempatan baik untuk berlibur dan menyiapkan diri untuk pensiun. Bagaimanapun, ia tak ingin terus menyembunyikan diri di balik pekerjaan ini. Ia rindu keluarganya. Ia ingin pulang membawa cerita menyenangkan yang dianggap normal oleh sebagian besar masyarakat, bukan cerita binal yang membuat orang-orang mengutuknya sebagai sampah.

Nina telah berusaha berhenti dari pekerjaannya, tapi ia selalu gagal. Pekerjaan ini membuatnya kecanduan. Uang mengalir begitu mudah, tanpa harus melunturkan kecantikan, satu-satunya senjata yang ia miliki untu menghadapi kehidupan yang keras. Ia tak mampu membayangkan akan mendapatkan kehidupan macam apa tanpa pekerjaan yang kini dilakoninya. Ia tak punya kemampuan apa pun untuk bersaing dengan anak zaman sekarang yang serba bisa.

Waktu luang yang berasal dari hukuman yang kini didapatkannya, ia jadikan kesempatan untuk “intropeksi”. Ia akan mengasingkan diri di sebuah tempat peristirahatan milik salah satu kenalannya. Sudah lama Nina ingin berkunjung ke rumah itu dan menetap sedikit lama di sana. Sebuah rumah yang dengan sengaja dihadapkan ke pantai agar bisa menerima sambutan mentari pagi, dengan aneka bunga di pekarangannya.

Nina sudah dua kali ke sana dan hatinya tertanam di rumah itu seperti bunga-bunga yang bermekaran di sana. Ia pernah sedikit usil menanyakan harga rumah tersebut kepada pemiliknya dan dijawab dengan tawa pendek serta, “Kau tak akan mampu membelinya, Nina.”

Rumah itu persembahan sang pemilik untuk kekasihnya yang telah mati. Karena itulah ia tiada harganya dan oleh sebab itu, Nina tidak akan bisa membelinya. Tetapi ia cukup senang karena sang pemilik telah memberikan garansi bahwa Nina bisa berkunjung kapan pun dan selama apa pun yang ia mau. Tentu ada harganya, tetapi biar itu ia pikirkan kemudian.

Rumah itu berjarak pendek dari tempat tinggal Nina, hanya 30 menit perjalanan darat dan 60 menit perjalanan laut.

Begitu sampai di sana, Nina hanya menjumpai seorang perempuan tua yang tengah membereskan tanaman-tanaman di pekarangan. Ibu itu mengatakan bahwa tuannya tengah menyeberang ke kota untuk membeli beberapa kekurangan peralatan pesta.

Nina diantarnya ke sebuah kamar di lantai dua.

“Tuan memberikan ini untuk Nona pakai nanti malam.”

Ibu itu menyerahkan sebuah kardus besar. Nina membuka dan melihatnya sekilas. Ia tidak kaget. Tentu saja baju dan perhiasan di sana mampu membuat perempuan biasa terbelalak matanya. Tapi Nina bukan perempuan biasa, karena itu ia bereaksi sewajarnya saja.

“Kami sudah menyiapkan makan siang untuk Nona, silakan turun ke lantai satu bila Nona lapar. Kami akan melayani Anda.”

Nina ingin tertawa mendengar cara berbahasa ibu itu. Sudah pasti ia diajarkan untuk berbicara seperti orang-orang di masa lalu. “Sungguh mirip Keynes.” Gumamnya.

Daripada makan siang, Nina memilih tidur. Ia harus menyiapkan diri untuk pesta nanti malam. Nina sudah tahu, yang dimaksud pesta oleh Keynes tak pernah sederhana. Selalu menguras energi dan mental Nina. Karena itu, paling tidak ia harus tidur cukup.

*****

Pesta malam itu di luar dugaan Nina. Keynes hanya mengundang sepuluh orang, lima tamu lelaki dan lima perempuan. Dekorasinya pun tidak megah sebagaimana gaya Keynes. Bertempat di gazebo yang terletak di antara pekarangan rumah dan kolam renang. Gazebo itu cukup luas untuk menampung satu ranjang besar dan dua meja kecil bundar tempat menaruh gelas-gelas sampayne dan beberapa piring makanan ringan serta anggur hijau dan ungu.

Nina dijadikan primadona untuk pesta malam itu. Keynes tak pernah melepaskan tangannya. Nina diperkenalkan kepada seluruh undangan sebagai perempuan luar biasa dengan imbuhan, “Kalian akan mengetahuinya begitu pesta ini dimulai,” disambut dengan tepuk tangan orang-orang asing itu.

Nina tersanjung tapi juga gugup. Ia hampir selalu panik bila tak mampu memperkirakan segala sesuatu yang ada di hadapannya. Pesta ini di luar dugaannya dan instingnya mengatakan bahwa ini bukanlah pesta biasa. Dan apa katanya, bila pesta dimulai? Jadi ini baru pembukaan?” batin Nina. Padahal ia telah berdiri dan berjalan-jalan di samping Keynes lebih dari satu jam. Nina mempelajari bahwa yang orang-orang itu lakukan bukan saja berbincang-bincang dan tertawa, tetapi menelanjangi tubuh Nina dengan tatapan penuh hasrat. Bukan saja para lelakinya, tetapi para perempuan juga.

Nina ingin mengatakan bahwa dirinya sudah terlalu lelah, tapi ia ragu Keynes akan mengerti. Ia baru saja mengisyaratkan bahwa pesta belumlah dimulai.

Ketika Nina hendak pamit ke kamar mandi, Keynes mengumumkan pada semua orang bahwa pesta akan segera dimulai. Nina urung mengutarakan niatnya.

Masih menggenggam tangan Nina, Keynes mengikstruksikan kepada kepala penjaga rumah untuk memulangkan seluruh pekerja yang masih di sana. Ia lalu kembali kepada para undangan dan mengumumkan beberapa hal yang membut Nina tercengang.

“Pesta malam ini adalah terobosan baru dari imajinasi saya, Saudara-Saudara. Ini adalah pesta yang mencoba untuk melepaskan segala batas antara kita dengan tubuh manusia. Maksud saya, segala batasan yang selalu kita ciptakan ketika melakukan hubungan seksual. Pada pesta ini, saya ingin kita menikmati tubuh orang lain dan membiarkan orang lain menikmati tubuh kita. Jangan pikirkan bahwa liang vagina, juga liang telinga, menjijikan untuk digauli oleh lidah kita. Jangan hanya fokus pada bagian-bagian tertentu ketika bercinta. Jelajahilah semuanya. Semuanya! Dan sambutlah semua kenikmatan yang akan kalian rasakan. Pilihlah setiap tubuh yang ingin kalian jelajahi. Semua orang bebas menjelajahi siapa saja di pesta ini.”

Riuh tepuk tangan memanjang saat itu. Semua orang terlihat gembira dan bernafsu. Nina yang masih kesulitan memahami inti dari pesta itu, ikut bertepuk tangan untuk menyesuaikan diri. Tepuk tangannya berhenti ketika tujuh dari sepuluh undangan menghampirinya. Ia menatap Keynes sedikit ketakutan. Tetapi lelaki itu malah tertawa dan menyelamatinya, “Kamu benar-benar primadona malam ini, Nina.”

Ketujuh orang itu berebut mendekati Nina. Seorang lelaki berbadan tegap seperti binaragawan, mengangkat tubuh Nina dan menidurkannya di ranjang besar. Nina benar-benar gugup dan khawatir tubuhnya akan rusak malam itu juga. Tapi Keynes menghampirinya dan berusaha menenangkan Nina.

“Tenang, Nina. Orang-orang ini tak akan menyakitimu. Mereka hanya ingin menjelajahi tubuhmu.”

“Tubuhku bukan hutan, Keynes. Tolong hentikan.”

Keynes tertawa, “Good one, Nina!”

Apa? Dia menganggap ekspresi ketakutan Nina adalah lelucon? Nina hendak protes lagi tetapi Keynes mengunci mulutnya dengan ciuman lembut dan hangat. Nina menerima ciuman yang tiba-tiba itu dengan nikmat. Ia selalu suka ketika seseorang yang tak dibencinya mencium bibirnya tiba-tiba. Dan ciuman Keynes selalu membuatnya terlena.

Keynes yang semula mencium Nina sambil membungkuk di sampingnya, kini beralih ke kepala ranjang dan mencium Nina dari sana. Saat itulah tujuh orang lainnya mulai berani menjelajahi tubuh Nina.

Di tengah ciuman dahsyat dari Keynes, Nina merasakan hisapan nikmat pada payudara sebelah kirinya. Hisapan itu berasal dari bibir yang lembut, basah dan kenyal. Nina merasakah bibir seorang perempuan di sana. Sejenak pikirannya menolak dan mengatakan bahwa ini aneh, tetapi ia tak dapat mengelak dari kenikmatan yang dirasakannya.

Payudara Nina yang sebelah kanan dikerumuni dua manusia, seorang lelaki bermata sipit dan seorang perempuan berkulit coklat dengan rambut ikal. Keduanya bergantian antara berciuman satu sama lain sambil meremas dan mempermainkan puting Nina, dan sesekali mendaratkan lidah mereka di puting itu.

Seorang lainnya sibuk menelusuri setiap inci leher Nina, satu lidah lainnya mendarat di perut Nina, sementara seorang lagi mengulum setiap jari-jari kaki Nina.

Sementara itu, seorang lelaki sibuk menjelajahi vagina Nina yang menganga karena kakinya ditarik ke atas oleh si penjelajah kaki. Klitoris Nina dimainkan sedemikian rupa. Dijilat-jilat, dihisap, dijilat lagi. Kadang digigit kecil-kecil geli.

Nina menggelinjang-gelinjang. Lupa sudah ia akan ketakutannya. Yang ia rasakan kini adalah perasaan bersalah yang nikmat. Dan kenikmatan itu telah mengalahkan perasaan bersalah atau perasaan asing yang semula menguasainya. Semua orang seperti berebut untuk memuaskannya.

One thought on “Orang Nomor Satu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s